Shadow from My Backpack

Traveller, Writer, Photographer, Engineer

Belilah Tanah di Kalimantan Tunggulah Jadi Kaya Mendadak

with 8 comments

Batubara diangkut kapal Pontoon, penyumbang 'devisa' Kota Samarinda.

Februari ini bukan Samarinda tujuan kota saya sebenarnya. Saya tidak ada bekal info apapun sebelum keberangkatan dari Jakarta. Biasanya sebelum bepergian di kota yang belum saya kunjungi, minimal sudah pegang peta dan info daerah wisatanya. Saya pun juga tidak tahu kalau sungai Mahakam ternyata ada di kota ini. Berangkat ke Samarinda dengan pengetahuan jelajah nol besar!

Pertama ini juga saya menginjakan di ranah borneo. Yang saya tahu kota Samarinda masih pedalaman dan masih terpelosok. Bayangannya banyak hewan iseng liar dan masih hutan tropis lebat. Tapi, ternyata kota ini jauh maju dari sugesti saya.

Kali ini saya akan menetap selama dua bulan untuk urusan kerja, setidaknya ada waktu saat weekend untuk mengeksplore borneo timur. Pertama saya akan menceritakan situasi ibukota Kaltim.

Berjajar mobil jenis Pajero dan Ford Ranger berseliweran di lalu lintas. Mobil jenis pickup mendominasi daripada jenis sedan. Mobil terkesan ekslusif kalau melintas di jalanan Jakarta. Tapi, di Samarinda mobil ber-cc dua ribuaan ini sudah mirip populasi Metromini di Jakarta. Alasannya memang banyak open pit tambang batubara dimana mobilisasi site di tambang menggunakan jenis semi truk ini.

Kedua, jalan utamanya mudah diingat. Tipikal jalan banyak yang mengikuti aliran sepanjang sungai. Samarinda dibelah oleh sungai terlebar se-Indonesia, namanya Sungai Mahakam. Lebar Sungai ini hampir 1 kiloan meter! Di sana berjejer puluhan kapal pontoon pengangkut Batubara yang mengantri untuk lewat. Pemandangan tak lazim yang baru saya temui.

Ketiga, cuaca disini panas! Siang hari suhu bisa mencapai 40 derajat celsius! Surabaya yang saya pikir kota terpanas, ternyata lewat. Sinar mataharinya menyengat. Jam lima sore panas sinarnya masih kerasa clekit di kulit.

Nah, ada yang unik di kota ini, salah satunya banyak pendatang dari pulau Jawa. Saya bertemu dengan Akmal salah satu penduduk asli Samarinda. Dia ini tinggal di kampung pendatang, bahasa Sundanya fasih banget. Logat sunda halusnya ngecring di telinga saya. Anehnya di tidak pernah ke tanah Sunda di Jawa Barat.

”Orang tua saya transmigran dari Sunda. Kampung ini kami namai Siliwangi. Karena hampir semua warga kami pendatang dari suku Sunda. Nah, percakapan kami sehari-hari memakai bahasa Sunda,” kata Akmal.

Ada juga namanya kampung Madiun. Bisa ditebak kalo warga kampung ini adalah para pendatang dari suku Jawa Timur. Generasi ketiga mereka mirip apa yang dialami Akmal. Bisa menggunakan bahasa Jawa, tapi belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Jawa.

Dan, untuk biaya hidup di Samarinda mahal sekali. Sekali makan, bisa hampir lima puluh persen dari harga makan di Jakarta! Apalagi air mineral. Satu galon air mineral harganya 150 % harga dari Jakarta! Sigh!

Tahu kenapa? Banyak orang kaya mendadak di kota ini. Tanah kosong hutan di Samarinda telah menghasilkan uang kaget para pemilik tanah itu. Mereka mematok-matok tanah hutan di Samarinda jauh hari sebelum batubara di temukan di tanahnya. Ada yang menjual satu patok tanahnya ke perusahaan batubara dengan harga 1 Milyar! Nah, kalau yang di patok ada 10 bidang tanah, berarti udah 10 Milyar di kantong!

Pantesan ada yang saya lihat beberapa orang memarkir mobil super mewah di depan rumahnya. Mobil bermerk Hummer kepanasan di luar pagar rumah. Sedang mobil VW Combie-nya masuk garasi. Ouh wtf!!

Written by walangkadoeng

February 26, 2010 at 9:19 pm

Posted in Coretan gw di sini

8 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Mantapppp informasinya Gan….ha ha ha

    Awan

    March 1, 2010 at 5:10 pm

  2. yah begitulah smd, masing2 sibuk memperkaya diri sendiri saat skrg, tanpa memikirkan masa depan. Perusahaan batu bara di mana2, bahkan ada yg berada masih di kawasan kota. gak tau deh cara bikin amdalx bagaimana. dampakx untuk saat skrg udah ada, salah satux yg dialami penulis, panas hingga 40 derajat, ujan dikit aja langsung banjir.

    Lebih parah, kawasan explorasi batu bara yag telah selesai, ditinggalkan begitu saja.

    Hanya bisa berdoa semoga kota saya tercinta ini bisa berbenah kembali.

    bayangan

    March 12, 2010 at 3:05 pm

  3. kalimantan dah banyak penduduk pendatang dri suku daerah lain di indonesia.seru.. bhineka tunggal ika bgt.tp tolonglah hargai penduduk asli dan terus saling menjaga kedamaian.jangan sampai warga pendatang yang mencari nafkah di kalimantan malah berusaha menguasai dan semena-mena di kampung orang.berbeda itu indah loooo…

    ading

    October 13, 2010 at 8:41 am

    • Bener ding, kalimantan ini udah terakumulasi orang bugis dan jawa. Untuk kaltim di daerah kota udah susah nemu suku aslinya, dayak dan kutai.

      walangkadoeng

      October 13, 2010 at 9:16 am

      • siapa bilang mas bro…di Sempaja Ujung, Lempake, Kampung Jwa dan jl Raudah banyak tuh saudara2 dayak juga Kutai :D:D:D

        QIJIL bin KAJOENK

        July 5, 2012 at 11:18 am

  4. iya, malah orang aslinya g tau mana? yang ada malah jawa sama sunda🙂

    rio

    March 16, 2011 at 11:21 am

  5. bagai bumi tidak marah, kalau perutnya diobok-obok. Bumi keropos, kota merana

    apung

    June 17, 2011 at 1:20 am

  6. Pemerintah lah yang bersalah.

    Asah Asih Asuh

    February 14, 2015 at 1:50 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: