Shadow from My Backpack

Traveller, Writer, Photographer, Engineer

Perjalanan di Kereta (3)

with 3 comments

Kereta Sembrani, Jakarta – Surabaya, 12 Agustus 2009

Selesai dapat tiket, saya pulang ke kosan di Depok. Saya punya waktu satu jam buat packing dan beres-beres kamar. Saya berangkat naek KRL dari stasiun UI.

Sesampai Gambir, sengaja saya nggak beli bekal untuk makan malam. Udah tiga tahun saya naek KA eksekutif ini. Ada yang janggal kali ini.

Dan, nggak biasa hingga jam 22.00 fasilitas makanan dari KA belum di hidangkan ke penumpang. Perut udah membeo, otak udah memanas. Saya tanya ke petugas KA kenapa sampai jam segini belum dapat makan malam.

”Wah, mas nggak tahu ya?
Mulai tanggal 1 Agustus PTKAI meniadakan tuslah makanan dan minuman untuk KA eksekutif.
Jadi, mas bisa beli makanan di  gerbong restorasi aja”. Singkat dan jelas menjawab perut saya.

Ah, sial empat belas! Pantesan, semua orang di sebelah saya, pesen makanan yang supermahal itu dari petugas restorasi. Walhasil, saya puasa saja. Kagak ada duit cuy buat beli steak tenderloin seharga 30 ribu itu.

Ini yang saya kecewakan kalau naek KA. Fasilitas aja minus tapi harganya plus. Kalo saya deskripsikan kondisi gerbong begini. Suhu di KA sekitar 24 derajat celcius, terdiri dari empat kolom dan 14 baris setiap gerbong tempat duduknya. Kursi empuknya bisa diatur, saat jam 21.00 selimut dibagikan ke penumpang. Plus bantal kecil untuk tidur.

Dua yang kurang! Makanan dan televisi! Padahal, awal naek KA eksekutif  dulu fasilitas ini selalu komplit. Inilah wajah BUMN Indonesia. Prinsip ekonomi di junjung tinggi, kepuasan konsumen terabaikan. Coba, kalau kereta BUMN ini ada pesaingnya badan swasta?

Sebelas jam di KA tanpa makanan membuat saya lapar. Tiba di stasiun Bojonegoro ada ibu-ibu menjajakan nasi pecel. Pikir saya, kalau saya beli pecel pasti tidak melorot dompet saja. Setelah, saya disodorin sepucuk pecel daun pisang oleh ibunya,

”Sepuluh ribu mas pecelnya. Enak toh, mantab toh panasnya”, ujar si ibu.  ”Kok mahal pecelnya bu. Dirumah cuman lima ribuan?”, tanya saya
”Iya mas, pecelnya naek KA mahal juga sih”, jawabnya enteng

Pelajaran hari ini. Tanyakan harga dulu sebelum makan, meski keliatan murah.

Written by walangkadoeng

August 22, 2009 at 5:18 am

Posted in Backpacker

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Kereta api kelas satu memang sudah lama ngga ada jatah makan Yud, katanya siy harganya jadi turun 5.000-20.000 tapi nyatanya ngga terasa turun tarif, yang terasa ya ngga ada jatah makan…:D

    Abimata Kalahari

    February 26, 2010 at 10:44 pm

    • Semakin kecewa kalau sekarang naek kereta api. Padahal ini kendaraan favorit.. Harusnya tuslah makanan tetep ada…

      walangkadoeng

      March 19, 2010 at 8:31 pm

  2. pecelnya jadi mahal soalnya yang naek kereta keliatan orang berduit, kapan lagi si ibu ngambil untung gede😀

    dHarto

    April 16, 2010 at 7:27 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: