Shadow from My Backpack

Traveller, Writer, Photographer, Engineer

Berburu suku Dayak di Borneo

with 11 comments

Wajah khas Dayak, berkulit putih dan bersih turunan dari bangsa Mongol

Bermodal tas backpack, peta Samarinda, kamera digital, dan tentunya modal duit irit. Siapa sangka akhirnya saya bisa juga bertemu dengan suku Dayak asli di pedalaman Kaltim! Sekali lagi perjalanan backpacker saya ini ‘on the show’. Nggak perlu bertele-tele mikir nanti disana naik apa, tersesat atau pikiran bodoh kepelet orang dayak! Hehehe..

Kebetulan saya ini orangnya suka cuek.  Tiap ada orang yang duduk di sebelah saya di tempat umum atau dimana saja, saya selalu punya inisiatif untuk berkenalan dulu. Entah basa-basi kata-kata atau ngobrol ngalor-ngidul seputaran berita lokal terkini. Dan, inisiatif saya untuk berkenalan ini berbuah manis. Hari ini saya dapat kenalan seorang security yang akhirnya dia meminjamkan motornya ke saya untuk menuju ke desa Dayak di Pampang ini. Hiyaa..!!

Berangkat dari Samarinda, letak desa Pampang ini sekitar 25 kilometer dari pusat kota. Ikuti saja jalan ke arah Bontang. Desa Pampang ini memang tempat yang dikhususkan untuk daerah wisata adat budaya Dayak. Setiap hari Minggu jam 14.00 rutin diadakan pentas tari Dayak. Penari ini lengkap menggunakan atribut adat Dayak. Dari anak kecil hingga generasi nenek-neneknya tampil all out.

Pampang diisi suku Dayak Kenyah. Cirinya gampang dibedakan dengan suku Dayak lain. Mereka mentato di sepanjang kaki dan tangannya dengan mengeblok kulitnya. Tatonya alami dari getah tumbuhan dan diukir mirip batik jawa. Semua suku Dayak perempuan membiarkan telinganya panjang molor karena beban giwang yang berat.

Andhit, teman saya yang asli suku Dayak bilang bahwa ada sebabnya mereka memanjangkan daun telinganya.

”Dulu bagi kami telinga panjang adalah kecantikan yang harus dimiliki setiap perempuan. Nggak manjangin telinga itu mirip monyet!”, katanya.

Mau nggak mau doktrin ini harus diikuti. Ibarat zaman sekarang doktrin cewek putih itu identik cantik. Padahal menurut saya itu hanya doktrin iklan teve! Goblok banget dah kalo bilang Indah Kalalo itu jelek. Wahai kaum adam berkulit eksotis, jangan buru-buru nanggapin iklan bodoh itu ya.

Selain tarian di desa ini saya disuguhkan cinderamata asli Dayak yang dijual. Ukiran taring hiu, bulu landak, bulu burung Merak, sarang semut, mandau, gantungan kunci kuku beruang hingga kalung batuan asli seharga 3 juta tersedia disini! Glek!

Saya beli kalung bersiung babi hutan. Siung babi hutan ini berdiameter 30 senti-an. Saya dapat harga murah, 30 ribu, padahal di stan sebelah harganya 50 ribu. Ya.. saya tergolong ngeyel-an kalau masalah tawar menawar. Itu tipsnya kalau anda jadi seorang backpacker. Tawar dulu habis-habisan dan tanya harga sebelum membeli.

Pernah suatu ketika saya melakukan perjalanan menggunakan KA eksekutif Jakarta-Surabaya. Ternyata saat itu juga tunjangan makan KA eksekutif di hapus. Tak pelak saya menahan lapar selama 10 jam. Untungnya jam 5 pagi ada ibu penjual pecel masuk di kereta.

Lauknya hanya telor dan sedikit rempeyek. Nasinya dibungkus seadanya dengan daun pisang. Saat tanya harus bayar berapa, ternyata harganya sama saja satu porsi Steak Tenderloin di foodcourt mal. Sigh!

Nah, ngomongin suku Dayak ada temen saya Aris yang punya cerita seru. Dia ini seorang keturunan Jawa tapi lahir di Kalimantan. Kerjanya adalah surveyor topografi logging. Dulu, awal tahun 2000-an Kalimantan terkenal dengan logging kayu Ulin. Harga kayu ini sangatlah mahal. Umur pohonnya sampai bertahan ratusan tahun. Biasanya, orang Kalimantan memakai kayu Ulin ini sebagai bahan dasar rumah panggungnya. Bayangkan, rumah yang terbuat dari kayu Ulin bisa bertahan hingga tiga generasi loh!

Pekerjaan Aris ini  menyurvei letak-letak pohon Ulin di hutan pedalaman Berau, Kalimantan Timur. Rombongan survei yang dia bawa ada sekitar 8-orangan. Pekerjaannya bisa dikatakan pasukan terdepan sebelum logging di lakukan. Jadi mereka ini camping hingga satu bulan lamanya. Dan barang yang mereka bawa adalah kebutuhan pokok seperti, beras, mie, rokok, minyak dan makanan kaleng.

Suatu ketika tiba-tiba rombongan Aris di datangi oleh 3 orang wanita dan 2 orang laki-laki dengan dandanan serba primitif. Rambut gondrong, gigi tak beraturan, kulit lusuh, baju seadanya dan ada semacam benjolan ekor di belakang bagian tubuhnya. Senjatanya parang semacam Mandau. Mereka ini tak bisa bahasa Indonesia. Uniknya, mereka membawa segepok pisang dan ubi-ubian.

Dengan memakai bahasa tubuh orang primitif ini seolah-olah meminta barter barang yang mereka bawa dengan rokok dan beras. Alhasilah Aris dan rombongannya gemetar disko. Mereka tak menghiraukan barang mereka diambil atau nggak, yang penting dalam hati Aris ”Jangan makan kami, Kanibal!”

Setelah didekati lima orang suku primitif ini persuasif juga. Ternyata, ransum (bekal makanan) yang selama ini hilang dari rombongan selama ini ditukar oleh mereka. Kata Aris selama tiga hari berturut-turut bekal mereka selalu hilang dan anehnya di sekitar bekal yang hilang selalu ada pisang dan ubi.

Usut punya usut suku primitif yang mendatangi Aris ini adalah salah satu jenis suku Dayak di Kalimantan yang bernama Dayak Punan. Cirinya, orang-orang ini pandai memanjat dan melompat mirip tarzan, dibelakang bagian pantatnya ada semacam ekor kecil.

Kapan ya saya bisa ketemu Dayak Punan ini? Pasti sekarang suku ini juga sudah kenal dengan uang. Karena, pada saat mendatangi Lamin Bioq Pemung Tawai Pampang di Kaltim kemarin saya harus merogoh kocek 20 ribu per jepretan. Totalnya saya mengambil 20 jepretan! Sekali lagi, saya seorang backpacker harus pinter ngeyel masalah harga, jadi saya nggak sampai bayar 400 ribu. Seru kan?!

Written by walangkadoeng

April 1, 2010 at 6:31 pm

Posted in Backpacker

11 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Hohoho, seru2 :D Ati2 anunya ilang mas :p

    aliefmaksum

    April 1, 2010 at 6:52 pm

  2. kepengen jadi nya kesana

    Ranny

    April 5, 2010 at 3:24 pm

  3. lengkap dach..dari Dayak Kenyah, Indah Kalalo mpe pecel..hehheh nice posting boi..

    NikNik

    April 6, 2010 at 3:00 pm

  4. borneo terkenal di dunia setelah bali…
    borneo the great..

    nurisolo

    May 27, 2010 at 1:09 am

  5. woouu..seru bngt siiihh…mau jg kynya traveling ke kalimantan…..

    dessy

    June 12, 2010 at 3:07 pm

  6. Seru sih seru… Tapi,ada bukti gak kalau Suku Punan punya ekor kecil ?

    Liq Ngang

    August 3, 2010 at 7:58 pm

  7. o ya suku punan itu tidak ada ekor mereka juga sama dengan suku suku lain di kepulauan Borneo, mereka dah moden, berpelajaran tinggi seperti kaum lain juga. Kebetulan saya sendiri suku punan dari kepulauan Borneo kami dah moden dan ramai yang berijazah seperti suku suku lain juga k dengan penjelasan ini diharap pembaca mengetahui sedikit sebanyak tentang kami suku kaum punan

    shawnick

    January 9, 2011 at 11:43 am

  8. o ya suku punan itu tidak ada ekor mereka juga sama dengan suku suku lain di kepulauan Borneo, mereka dah moden, berpelajaran tinggi seperti kaum lain juga. Kebetulan saya sendiri suku punan dari kepulauan Borneo kami dah moden dan ramai yang berijazah seperti suku suku lain juga, k dengan penjelasan ini diharap pembaca mengetahui sedikit sebanyak tentang kami kaum punan

    shawnick

    January 9, 2011 at 11:47 am

  9. saya pernah ke kmpng punan,tapi kampung itu katanya di tinggalkan,karna suku punan tidak biasa menetap,jdi kampung tsbt skarang di tempati oleh suku dayak lain.daerahnya masih sepi sekali,jauh kemana2.mudah2an cepat pembangun sampai di sana.sebab kasihan,angkutan umum tidak ada,listrik blm masuk.repot juga kalo ada warga yg butuh perawatan rumah sakit,jauuuuuh jaraknya.”pemerintah cepet dong bangun daerah2 yang seperti itu,kasian sama anak2 yang masih dalam usia belajar”

    kalingga respati wengi

    November 8, 2013 at 9:00 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: