Archive for February 2010
Belilah Tanah di Kalimantan Tunggulah Jadi Kaya Mendadak
Februari ini bukan Samarinda tujuan kota saya sebenarnya. Saya tidak ada bekal info apapun sebelum keberangkatan dari Jakarta. Biasanya sebelum bepergian di kota yang belum saya kunjungi, minimal sudah pegang peta dan info daerah wisatanya. Saya pun juga tidak tahu kalau sungai Mahakam ternyata ada di kota ini. Berangkat ke Samarinda dengan pengetahuan jelajah nol besar!
Pertama ini juga saya menginjakan di ranah borneo. Yang saya tahu kota Samarinda masih pedalaman dan masih terpelosok. Bayangannya banyak hewan iseng liar dan masih hutan tropis lebat. Tapi, ternyata kota ini jauh maju dari sugesti saya.
Kali ini saya akan menetap selama dua bulan untuk urusan kerja, setidaknya ada waktu saat weekend untuk mengeksplore borneo timur. Pertama saya akan menceritakan situasi ibukota Kaltim.
Berjajar mobil jenis Pajero dan Ford Ranger berseliweran di lalu lintas. Mobil jenis pickup mendominasi daripada jenis sedan. Mobil terkesan ekslusif kalau melintas di jalanan Jakarta. Tapi, di Samarinda mobil ber-cc dua ribuaan ini sudah mirip populasi Metromini di Jakarta. Alasannya memang banyak open pit tambang batubara dimana mobilisasi site di tambang menggunakan jenis semi truk ini.
Kedua, jalan utamanya mudah diingat. Tipikal jalan banyak yang mengikuti aliran sepanjang sungai. Samarinda dibelah oleh sungai terlebar se-Indonesia, namanya Sungai Mahakam. Lebar Sungai ini hampir 1 kiloan meter! Di sana berjejer puluhan kapal pontoon pengangkut Batubara yang mengantri untuk lewat. Pemandangan tak lazim yang baru saya temui.
Ketiga, cuaca disini panas! Siang hari suhu bisa mencapai 40 derajat celsius! Surabaya yang saya pikir kota terpanas, ternyata lewat. Sinar mataharinya menyengat. Jam lima sore panas sinarnya masih kerasa clekit di kulit.
Nah, ada yang unik di kota ini, salah satunya banyak pendatang dari pulau Jawa. Saya bertemu dengan Akmal salah satu penduduk asli Samarinda. Dia ini tinggal di kampung pendatang, bahasa Sundanya fasih banget. Logat sunda halusnya ngecring di telinga saya. Anehnya di tidak pernah ke tanah Sunda di Jawa Barat.
”Orang tua saya transmigran dari Sunda. Kampung ini kami namai Siliwangi. Karena hampir semua warga kami pendatang dari suku Sunda. Nah, percakapan kami sehari-hari memakai bahasa Sunda,” kata Akmal.
Ada juga namanya kampung Madiun. Bisa ditebak kalo warga kampung ini adalah para pendatang dari suku Jawa Timur. Generasi ketiga mereka mirip apa yang dialami Akmal. Bisa menggunakan bahasa Jawa, tapi belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Jawa.
Dan, untuk biaya hidup di Samarinda mahal sekali. Sekali makan, bisa hampir lima puluh persen dari harga makan di Jakarta! Apalagi air mineral. Satu galon air mineral harganya 150 % harga dari Jakarta! Sigh!
Tahu kenapa? Banyak orang kaya mendadak di kota ini. Tanah kosong hutan di Samarinda telah menghasilkan uang kaget para pemilik tanah itu. Mereka mematok-matok tanah hutan di Samarinda jauh hari sebelum batubara di temukan di tanahnya. Ada yang menjual satu patok tanahnya ke perusahaan batubara dengan harga 1 Milyar! Nah, kalau yang di patok ada 10 bidang tanah, berarti udah 10 Milyar di kantong!
Pantesan ada yang saya lihat beberapa orang memarkir mobil super mewah di depan rumahnya. Mobil bermerk Hummer kepanasan di luar pagar rumah. Sedang mobil VW Combie-nya masuk garasi. Ouh wtf!!
13:1
Perlu satu jam untuk melakukan perjalanan dari mess tinggal ke jobsite. Satu jam penyiksaan yang membawa segerombolan tukang tambang di daerah Samarinda pinggiran. Awal awal inilah rotasi pola hidup jadi berubah. Yang biasa bangun jam 6 pagi waktu Jakarta, sekarang saya harus bangun jam 4 pagi waktu Samarinda, artinya rutinitas saya sekarang mulai jam 03.00 waktu Jakarta.
Seru! Dan menantang! Yang saya hadapi sekarang bukan urusan hitungan finite element metode dengan matriks 16 x 16 lagi. Tapi, rooster kerja 13: 1 dengan intensitas total kerja selama 14 jam sehari! Wow! Belum harus berhadapan dengan ilmu tambang, geologi, survey dan produksi. Selama dua bulan ini saya harus mencapai target dengan pembelajaran di semua departemen. Mulai departemen HR (Human Resource), SHE (Safety, Health and Enviromental), Production, Plant dan Engineering.
Ada satu hal yang membuat saya tertantang jadi insinyur tambang ini. Cowok banget! Pakaian lengan panjang khas tambang, celana jeans, rompi orange, helm dan kacamata safety. Pernah lihat iklan teve celana jeans Levi’s di tahun 2000-an awal? Itulah yang saya rasakan.
Setidaknya saya akan berada selama dua bulan di Samarinda ini. Selanjutnya saya akan melanjutkan petualangan di Pulau Sebuku, Kalimantan Selatan. Letak pulau ini berada di paling bawah Pulau Kalimantan, yang harus melewati dua selat!
Dan, inilah pertama kali saya merayakan ulang tahun saya di hutan pinggiran kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
I Love Traveller











