Berangkat ke Bromo (6)
Mobil Colt, Malang – Probolinggo, 16 Agustus 2009

Ini kedua kali saya ke Bromo, lima tahun yang lalu saya berangkat dari Surabaya. Kali ini berangkat dari Malang. Saya pikir, jalanan ke Bromo akan penuh macet. Ternyata, tidak sama sekali.
Mobil yang kami tumpangi selama 2,5 jam berjalan sendiri. Rute yang kami lewati adalah Malang – Lawang – Pasuruan dan Probolinggo. Lepas dari Lawang dan masuk ke kawasan pasuruan dengan track jalan menanjak, saya melihat sepi amboy jalan ini. Tidak ada lampu penerangan jalan. Sisi kanan kiri ladang dan sepi rumah penduduk.
Saya khawatir saja, saat sopirnya separuh mengantuk. Terhitung tiga kali, mobil yang kami naiki oleng. Yang pertama, ketika ada belokan tajam ke kanan, si sopir melahap jalan ke kiri terlalu banyak. Yang kedua, ketika ada mobil parkir di depan hampir saja di seruduk. Terakhir, lubang jalan berdiameter satu meter di gas aja. Spontan teman-teman di belakang pada bangun.
Saya intip lewat jendela setelah perjalanan satu jam lebih, di setiap tikungan tajam selalu terdapat arca beselendang kuning. Sepertinya, ini patung milik umat Hindu. Phuff, dingin juga ketika saya coba buka jendela samping.
Setelah masuk kawasan Bromo, tepatnya di pertigaan jalan yang menghubungkan dari Surabaya dan Malang, sudah terlihat rame mobil. Kebanyakan adalah mobil jeep hard top. Berarti udah hampir sampai ini.
Kalau kawan ke Bromo, persiapkan dahulu barang wajib yang di bawa. Jaket hangat, celana panjang, sepatu kets, syal, sarung tangan, dan topi. Kalau bisa bawa sebelum berangkat. Jika terpaksa, banyak warga sekitar yang menjual perlengkapan hangat itu. Harganya standar kok. Ada juga yang tidak menjual. Kawan cukup sewa di warga setempat.
Masuk di Bromo, saya membayar lima tiket di pos penjagaan totalnya kurang dari 30 ribu rupiah. Nah, di jalur Penanjakan inilah suasana di sudah mulai rame. Kami sampai di pos penjagaan kira-kira pukul 04.15.
Setelah lewat pos penjagaan kami mengantre masuk bersama mobil-mobil wisata lain. Kebanyakan jeep hard top, hanya sedikit terlihat mobil pribadi. Mungkin, lebih baik parkir di bawah dan sewa hardtop daripada resiko mobil tidak bisa naik dengan track yang naik.
Oke, mobil kami di parkir. Kemudian kami turun. Chezzz… Dingin banget ternyata di luar. Mungkin suhunya sepuluh derajat celsius. Kami naik ke tempat yang disediakan untuk melihat sunrise. Kira-kira 15 menit dari tempat berjalan dari parkir.
Setelah sampai di puncak, ternyata sudah rame dan penuh dengan orang-orang yang datang sebelum kami. Jumlahnya ratusan umumnya bule. Mereka semua sigap dengan kamera masing-masing untuk mengabadikan matahari terbit. Oya kawan, jangan lupa membawa senter untuk mencari tempat duduk di puncak. Karena disini tidak ada penerangan.











hamparan pasir yang luas…
BROMO emang keren abisss…
_______________________________________________________
http://WWW.KENALANYUK.COM <== facebook buatan INDONESIAA ASLIIII!!! AYOOO GABUNG!!!!
KenalanYuk.com
August 22, 2009 at 12:17 pm