Saya dan (Anekdot) Jakarta

Me, Music, Technology, Hobby

Archive for August 2009

Sampai Jumpa Bromo (9-habis)

without comments

bromo (69)Pukul 09.15 kami beranjak dari Gunung Bromo. Kami melanjutkan perjalanan ke Air terjun Madakaripura. Sebelumnya kami mencari sarapan pagi di sekitar kampung warga tengger.

Saya perhatikan rata-rata semua rumah warga tengger selalu berdinding kaca. Bisa saja karena di tempat ini dingin dan membutuhkan cahaya matahari supaya hangat.

Kami meninggalkan bromo dengan terpuaskan sarapan pecel. Saya puas dengan perjalanan kali ini. Semua kenangan telah saya simpan di memori kamera. Kuda – matahari – pasir adalah benang merah dari perjalanan Bromo. Amazing!

Written by walangkadoeng

August 31, 2009 at 11:19 am

Posted in Coretan gw di sini

Lautan Pasir (8)

without comments

Lautan Pasir Bromo – 16 Agustus 2009

bromo (47)
Di lokasi ini kawan harus turun dengan kendaraan, tidak mungkin jalan kaki dari Penanjakan tadi. Lumayan Jauh. Rame sekali tempat ini, mungkin gara-gara liburan panjang tempat wisata ini penuh dengan orang.

Tepat jam 07.22 kami sampai di lokasi. Ini adalah lokasi ke dua setelah puncak Penanjakan untuk melihat Sunrise. Bedanya, kami harus berjalan jauh, melewati pasir dan menaiki ratusan anak tangga. Capek memang. Tapi, cukup terbayarkan dengan keindahan pemandangan sekitar.

Kami sebenarnya memutuskan untuk naik kuda.

”Pak, pinten naik kudanya. Kita berlima pak”, tanya saya ke tukang penarik Kuda
”Sampun, seratus mawon mas. Ini murah kok”, balas bapak.
”Kok mahal pak, 75 ribu saget mboten?”, tawar saya.
”Sampun, ngene ae, sampean tambahi 15 ribu. Gimana?”, kilah bapak yang sedang memegang kuda poninya ini.

”Pun, pak kalo mboten purun nggih mboten nopo-nopo. Kami jalan aja pak”, jawab saya.

Karena, menurut kami mahal dan lebih asyik berjalan kami memutuskan untuk berjalan menuju kawah puncak.

Benar saja kawan, ternyata kalau jalan kita lebih bebas untuk memilih rute. Lautan pasir ini tingginya semata kaki orang dewasa. Padahal, kata ibu saya ketika tahun 90-an ke sini, tinggi pasirnya hingga separuh dengkul. Jalannya susah, makanya wisatawan dulu semua naik kuda.

Setelah melewati lautan pasir kita akhirnya berhadapan dengan anak tangga yang lumayan tinggi. Konon setiap wisatawan yang datang kesini, selalu tidak bisa menghitung tepat jumlah anak tangganya.

Setelah saya buktikan dengan teman saya, saya menghitungnya dengan tepat 230 anak tangga. Tapi, teman saya ada bilang 249. Haha… mungkin mitos itu benar. Lha wong, naik aja susah apalagi di sambi menghitung.

Setelah puas di puncak kami berfoto. Mengabadikan gambar untuk dibawa oleh-oleh. Akhirnya, kami turun lagi. Kalau kawan kesini, jangan lupa bawa masker penutup hidung. Pasalnya, banyak debu yang akan kita hirup bersama bau kotoran kuda dimana-mana.

Written by walangkadoeng

August 31, 2009 at 10:57 am

Posted in Coretan gw di sini

Sunrise (7)

with one comment

Bromo, 16 Agustus 2009
DSC_1495Sekitar 04.45 langit kuning sudah menyapa saya. Meski matahari masih enggan terbit, sudah terlihat samar-samar digdayanya kuasa Tuhan. Wisatawan sudah sibuk dengan posisi berdiri dan terdepan. Ada yang membawa SLR dengan lensa tele, ada juga yang dengan kamera handphone sekedarnya.

Saya bermodal  Nikon D-70 untuk menjepret gugusan awan terpantul sinar matahari. Tepat, pukul 05.30 matahari sudah muncul dari balik awan. Indah sekali! Tak ada yang bisa membandingkan keindahan alam tepat dengan terbitnya Matahari di gunung Bromo.

Gunung Batok di sebelah timur saya terlihat jelas bentuk guratan lekukan pasirnya. Kaldera berasap putih seakan menyombongkan dirinya. Angkuh tapi menawan. Inilah mahakarya tinggi yang dinanti setiap wisatawan yang berkunjung ke Bromo.

Awan berwarna oranye seakan tak kalah pamer. Gumbulan combulus nimbus di satroni sinar mentari seolah berujar, ”Lihatlah aku. Mati rasa instingmu melihat aku”.

Saya menjempret tiap detik metamorfosa matahari kecil ini. Hingga muncul bulat sempurna matahari itu. Oh ya kawan, saya juga mengambil gambar bersama keempat teman saya. Di salah satu bagian tempat ini, terpasang bendera merah putih. Seonggak bambu dibaluti bendera matahari dengan background gunung batok. Saat dilihat hasilnya di kamera mirip lukisan tangan.
Sempurna!

Sekitar empatpuluh menit kami mengambil objek untuk difoto. Hingga akhirnya kami sepakat untuk turun ke lautan pasir yang ada di bawah. Kami tidak jalan kaki, namun kembali ke mobil awal yang membawa kami ke tempat ini.

Written by walangkadoeng

August 22, 2009 at 7:15 am

Posted in Coretan gw di sini

Berangkat ke Bromo (6)

with one comment

Mobil Colt, Malang – Probolinggo, 16 Agustus 2009

bromo (41)
Ini kedua kali saya ke Bromo, lima tahun yang lalu saya berangkat dari Surabaya. Kali ini berangkat dari Malang. Saya pikir, jalanan ke Bromo akan penuh macet. Ternyata, tidak sama sekali.

Mobil yang kami tumpangi selama 2,5 jam berjalan sendiri. Rute yang kami lewati adalah Malang – Lawang – Pasuruan dan Probolinggo. Lepas dari Lawang dan masuk ke kawasan pasuruan dengan track jalan menanjak, saya melihat sepi amboy jalan ini. Tidak ada lampu penerangan jalan. Sisi kanan kiri ladang dan sepi rumah penduduk.

Saya khawatir saja, saat sopirnya separuh mengantuk. Terhitung tiga kali, mobil yang kami naiki oleng. Yang pertama, ketika ada belokan tajam ke kanan, si sopir melahap jalan ke kiri terlalu banyak. Yang kedua, ketika ada mobil parkir di depan hampir saja di seruduk. Terakhir, lubang jalan berdiameter satu meter di gas aja. Spontan teman-teman di belakang pada bangun.

Saya intip lewat jendela setelah perjalanan satu jam lebih, di setiap tikungan tajam selalu terdapat arca beselendang kuning. Sepertinya, ini patung milik umat Hindu. Phuff, dingin juga ketika saya coba buka jendela samping.

Setelah masuk kawasan Bromo, tepatnya di pertigaan jalan yang menghubungkan dari Surabaya dan Malang, sudah terlihat rame mobil. Kebanyakan adalah mobil jeep hard top. Berarti udah hampir sampai ini.

Kalau kawan ke Bromo, persiapkan dahulu barang wajib yang di bawa. Jaket hangat, celana panjang, sepatu kets, syal, sarung tangan, dan topi. Kalau bisa bawa sebelum berangkat. Jika terpaksa, banyak warga sekitar yang menjual perlengkapan hangat itu. Harganya standar kok. Ada juga yang tidak menjual. Kawan cukup sewa di warga setempat.

Masuk di Bromo, saya membayar lima tiket di pos penjagaan totalnya kurang dari 30 ribu rupiah. Nah, di jalur Penanjakan inilah suasana di sudah mulai rame. Kami sampai di pos penjagaan kira-kira pukul 04.15.

Setelah lewat pos penjagaan kami mengantre masuk bersama mobil-mobil wisata lain. Kebanyakan jeep hard top, hanya sedikit terlihat mobil pribadi. Mungkin, lebih baik parkir di bawah dan sewa hardtop daripada resiko mobil tidak bisa naik dengan track yang naik.

Oke, mobil kami di parkir. Kemudian kami turun. Chezzz… Dingin banget ternyata di luar. Mungkin suhunya sepuluh derajat celsius. Kami naik ke tempat yang disediakan untuk melihat sunrise. Kira-kira 15 menit dari tempat berjalan dari parkir.

Setelah sampai di puncak, ternyata sudah rame dan penuh dengan orang-orang yang datang sebelum kami. Jumlahnya ratusan umumnya bule. Mereka semua sigap dengan kamera masing-masing untuk mengabadikan matahari terbit. Oya kawan, jangan lupa membawa senter untuk mencari tempat duduk di puncak. Karena disini tidak ada penerangan.

Written by walangkadoeng

August 22, 2009 at 6:50 am

Posted in Coretan gw di sini

Persinggahan Terakhir (5)

with one comment

Malang, 15 Agustus 2009

helios
Saya sampai di hotel Helios, tempat teman saya menginap. Letaknya di jalan Pattimura, Malang.  Kira-kira satu kilometer dari stasiun pemberhentian  KA saya. Hotel ini tarif sewanya mulai 95 ribu – 125 ribu per kamar.

Yang paling murah fasilitasnya kipas angin dan private bathroom. Satu kamar maksimal diisi dua orang. Di depan terdapat tulisan kalo hotel ini memang untuk backpacker.

Setelah istirahat selama empat jaman, kita berlima berangkat pukul 02.00 dinihari. Kita menyewa travel selama 1 hari full dengan area Malang – Probolinggo dengan tarif 650 ribu rupiah.

Mobilnya, colt diesel berkapasitas delapan penumpang. Jadi, kalo ingin murah maksimalkan saja jumlah penumpang colt itu.

Written by walangkadoeng

August 22, 2009 at 6:07 am

Posted in Coretan gw di sini

Saya Datang Bromo (4)

with one comment

KA Malang Express, Surabaya – Malang, 15 Agustus 2009

bromo (12)

”Jeh, piye jadi ikut ga ke Bromonya. Nanti kabarin yah”, sms dari temen saya.

Kawan, ’Jeh’ adalah sebutan akrab dari Surabaya. Kalo di Jakarta biasanya, cuy, bro atau cing.

Teman saya ini bekerja di perusahaan owner Batubara di Kalimantan Selatan. Dia bersama tiga orang temannya berangkat dari Balikpapan ke Surabaya, untuk mengisi liburan panjang 17-an. Tujuannya Bromo, Air terjun Madakaripura, Malang dan Surabaya.

Meeting point kami di Malang. Mereka tiba dahulu di Malang, Sabtu pagi hari karena ke Jatim Park dan Agrowisata Apel dahulu. Saya berangkat dari Surabaya sore pukul 16.30 dari rumah. Jadwal KA Malang Express berangkat 17.10 dari Stasiun Gubeng. Tiketnya 15 ribu rupiah, kelas bisnis.

Dasar KA, keberangkatannya tidak bisa diprediksi. Yang harusnya sampai di stasiun Malang Kota Baru pukul 19.10 tapi disana saya sampai 21.00. Hampir dua jam.

Selama di perjalanan, saya kangen suasana ini. Sumringah khas orang Jawa  dan ramah tamahnya. Saya melihat pancaran senyum semua penumpang. Entah karena hari ini liburan panjang atau senin adalah hari kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Saya mengintip di jendela, Wonokromo udah lewat. Berarti saya akan melintasi Lumpur Porong. Benar, sepuluh menit perjalanan dari Wonokromo di sisi timur gerbong terlihat tanggul penahan lumpur setinggi tiga meter. Sayang, lumpur tidak terlihat, saya dari tadi hanya membau lumpur berbau gas.

Ngeri melihat daerah ini, udah dua tahun lewat belum ada solusi cerdas mengatasi bencana ini. Seolah pemerintah mengepakkan sayap pergi dan tak bertanggung jawab bencana ini.

Ah, asuh! Malas saya mikir pemerintah Indonesia ini. Kemerdekaan ke-64 ini, belum tentu merdeka buat warga porong.

Saya punya rumah di kawasan porong empat tahun lalu yang udah terjual. Saat ibu saya memutuskan untuk menjual rumah itu, keputusannya tepat.

Setahun lalu saat menyambangi bekas rumah saya itu, ternyata depan rumah sudah dipenuhi lumpur setinggi mata kaki. Sekarang mungkin sudah tenggelam oleh lumpur. Inilah rejeki ibu saya kawan.

Written by walangkadoeng

August 22, 2009 at 5:42 am

Posted in Backpacker

Perjalanan di Kereta (3)

without comments

Kereta Sembrani, Jakarta – Surabaya, 12 Agustus 2009

Selesai dapat tiket, saya pulang ke kosan di Depok. Saya punya waktu satu jam buat packing dan beres-beres kamar. Saya berangkat naek KRL dari stasiun UI.

Sesampai Gambir, sengaja saya nggak beli bekal untuk makan malam. Udah tiga tahun saya naek KA eksekutif ini. Ada yang janggal kali ini.

Dan, nggak biasa hingga jam 22.00 fasilitas makanan dari KA belum di hidangkan ke penumpang. Perut udah membeo, otak udah memanas. Saya tanya ke petugas KA kenapa sampai jam segini belum dapat makan malam.

”Wah, mas nggak tahu ya?
Mulai tanggal 1 Agustus PTKAI meniadakan tuslah makanan dan minuman untuk KA eksekutif.
Jadi, mas bisa beli makanan di  gerbong restorasi aja”. Singkat dan jelas menjawab perut saya.

Ah, sial empat belas! Pantesan, semua orang di sebelah saya, pesen makanan yang supermahal itu dari petugas restorasi. Walhasil, saya puasa saja. Kagak ada duit cuy buat beli steak tenderloin seharga 30 ribu itu.

Ini yang saya kecewakan kalau naek KA. Fasilitas aja minus tapi harganya plus. Kalo saya deskripsikan kondisi gerbong begini. Suhu di KA sekitar 24 derajat celcius, terdiri dari empat kolom dan 14 baris setiap gerbong tempat duduknya. Kursi empuknya bisa diatur, saat jam 21.00 selimut dibagikan ke penumpang. Plus bantal kecil untuk tidur.

Dua yang kurang! Makanan dan televisi! Padahal, awal naek KA eksekutif  dulu fasilitas ini selalu komplit. Inilah wajah BUMN Indonesia. Prinsip ekonomi di junjung tinggi, kepuasan konsumen terabaikan. Coba, kalau kereta BUMN ini ada pesaingnya badan swasta?

Sebelas jam di KA tanpa makanan membuat saya lapar. Tiba di stasiun Bojonegoro ada ibu-ibu menjajakan nasi pecel. Pikir saya, kalau saya beli pecel pasti tidak melorot dompet saja. Setelah, saya disodorin sepucuk pecel daun pisang oleh ibunya,

”Sepuluh ribu mas pecelnya. Enak toh, mantab toh panasnya”, ujar si ibu.  ”Kok mahal pecelnya bu. Dirumah cuman lima ribuan?”, tanya saya
”Iya mas, pecelnya naek KA mahal juga sih”, jawabnya enteng

Pelajaran hari ini. Tanyakan harga dulu sebelum makan, meski keliatan murah.

Written by walangkadoeng

August 22, 2009 at 5:18 am

Posted in Backpacker

Gagal Berangkat (2)

with one comment

Kereta Sembrani, Jakarta – Surabaya, 12 Agustus 2009

Kecewa nian niat berlibur kali ini gagal, padahal persiapan udah saya lakukan 3 bulan yang lalu. Alasannya, teman saya di Lombok ternyata harus melakukan perjalanan dinas ke Surabaya. Tepat di saat saya ingin berkunjung ke sana. Dan, teman terakhir yang saya ajak, cutinya tidak di approve dari kantor. Asuh!!

Hari Rabu sebelum 17-an saya memutuskan untuk pulang saja ke Surabaya.  Impian backpacker ke Lombok gagal. Saya ke gambir pukul 3 sore dari depok, untuk reservasi keberangkatan Jumat.

Monitor flat di atas loket menunjukkan angka nol merah untuk hari Kamis hingga senin untuk keberangkatan Gambir ke Pasar Turi. Artinya, tiket ke Surabaya sudah sold out! Kawan,  akhirnya saya beli tiket untuk keberangkatan hari ini juga. Tiket cuman tersisa 25 seat.

Saya masuk ke dalam ular antrian. Di monitor saya terus update jumlah tiket tersisa, saat antrian lepas satu, di monitor menunjukkan tiket ke Surabaya berkurang dua. Saya tambah was-was ketika tiket menunjukkan 15 seat.

Akhirnya giliran saya paling di depan loket.
”Mbak tiket Sembrani, dewasa satu untuk malam ini. Berapa mbak?”
”Maaf mas, loket ini untuk keberangkatan H-1 sampai H-30. Untuk keberangkatan hari ini ada di loket  selatan”. Jelas petugas loket ke saya.

Sial! Saya salah masuk antrian. Buru-buru saya lari ke loket selatan mirip badut maling ayam. Jarak loket utara dan selatan sekitar 300 meteran.

Celaka tiga belas. Antriannya lebih parah dari yang tadi. Panjang shaf terdepan shalat tarawih di masjid kampung saya saja kalah. Artinya, kans untuk dapat tiket  fifty-fifty. Penumpang di depan saya bertanya kepada saya.

”Mas kalau mau ke Surabaya enak naik apa yah?
Saya butuh cepat datang ke sana”.
Saya jawab tegas, ”Naek KA Gumarang aja pak.
Jangan Sembrani. Sembrani datangnya lambat”.

Pikir saya, jangan sampai orang ini naek Sembrani. Bisa-bisa tiket tujuan saya habis di bapak ini.

Memang ke Surabaya bisa naik Gumarang dan Sembrani. Hanya Gumarang keberangkatannya satu jam lagi. Nggak mungkin saya PP Depok-Gambir sejam.

Dan, saya tambah gemetar ketika liat di monitor tiket sembrani tersisa tiga! Padahal saya masih antrian ke lima lagi.

Akhirnya, berkah gagal ke lombok, saat saya di layani loket ternyata tiket sembrani tinggal 2. Untung duapuluh satu. Saya gagal ke lombok tapi bisa pulang ke kampung.

Written by walangkadoeng

August 21, 2009 at 10:21 pm

Posted in Backpacker

Tagged with ,

Metamorfosis Sempurna (1)

with 2 comments

Depok, 1 Agustus 2009

Awal kenikmatan traveling liburan ini, bermula ketika teman saya yang tinggal di Mataram bilang tentang Gili Meno. Tempat ini adalah tujuan wisata di Pulau Lombok dengan pantai indah sekaligus bisa snorkeling. Saat saya menghubunginya via telepon dan bilang kalau akan liburan backpacker dia menyambut dengan welcome.

”Sudah ngebet ini bro untuk berangkat ke Lombok. Rencana via darat dari Jakarta. Kira-kira aku membawa empat orang temenku. Tolonglah bro dicarikan hostel murah meriah di kota Mataram untuk dua malam.

Begitu informasi yang saya sampaikan ke temen dekatku saat SMA ini.
Sayangnya, sore hari itu juga kedua teman saya membatalkan niat backpacker’an liburan ini.

Begini email yang dia tulis:
Begini yud rencana kita untuk ke Lombok mungkin harus tertunda sampai Januari tahun depan. Gw mau konsen ke Skripsi dulu.Lagian sebentar lagi juga puasa. Januari kita persiapkan koper, semangat tinggi, cakra tak terbatas, rute travel, akomodasi final. Gw juga trus googling map Bali dan Lombok dan ekskalasi harga.

Saya hormati keputusan teman saya. Namun bara api sudah terlanjur menyala. Semangat meminggul ransel sudah tak bisa ditunda. Meski sendiri saya tetap akan berangkat. Peta bali sudah saya beli. Tujuan dan schedule sedang saya susun ketika sesampai di Bali dan Lombok.

Passion backpacker saya dapatkan setelah membaca Endensor, buku ketiga dari tetralogi laskar pelangi. Novel yang mengundang decak gemetar saya ketika si penulis mensyratkan perjalanan jauh ke Eropa. Berangkat dari Paris dengan tujuan Rusia dan Afrika tanpa modal.

Modalnya hanya baju teatrikal seni ikan Duyung. Pertunjukannya ngamen menjadi ikan duyung dari negara satu ke negara lain. Dari inilah si penulis mendapatkan uang saku.

Novel ini saya baca saat kembali ke Jakarta dari Surabaya beberapa waktu lalu di kereta Sembrani. Ditambah, sesampai di Stasiun gambir saya berkenalan dengan Anne, mahasiswi Belanda, seorang backpacker ternyata.

Anne. I see your bag fulfilled with flag badge other countries. So, this is your first time came to Indonesia?” Saya penasaran melihat beberapa tempelan bordiran bendera berbagai negara di tasnya.

No, It’s my second time visit to Indonesia. I will go to Bunaken, but I’ll pick up my friend in Bogor before”. Jawabnya.

Cewek bule saja berani berangkat ke negeri lain tanpa teman. Ini yang saya sebut metamorfosis sempurna. Setelah menghabiskan enam bulan berkutat kuliah di semester 8 plus dua bulan semester pendek dengan hasil nilai cukup memuaskan saya butuh reward.

Perfect minggu depan kemungkinan saya tetap akan berangkat.

Written by walangkadoeng

August 21, 2009 at 9:36 pm

Posted in Backpacker