Busway Sialan, Kopaja Apalagi!
Siap mendengar carut mawutnya transportasi Jakarta? Kota megapolitan dengan penduduk lebih 10 juta ini, tak mampu menyediakan transportasi layak bagi warganya!
Hari ini sudah dua tahun lebih saya berada di kota barometer Indonesia. Dua tahun juga menghirup monoksida plus macetsida jalanan Jakarta. Sumpek! Itu kata yang pas buat jalan raya Jakarta.


Kenapa? Pertama, kopaja dan metromini salah satu biang kerok penyumbang asap racun. Bus keluaran tahun 70-an ini masih bertenggeng menjadi kendaraan umum favorit para karyawan. Sekali naek kena pungut Rp 2.500. Tempat duduknya mirip kursi terminal bus. Keras tanpa busa.
Kapasitasnya tak terhingga. Meski bus sampai melendut, tetap aja si kenek maksa ngasih tempat buat penumpang baru.
Jangankan duduk, di dalam bus ini sengaja di modif 1/3 bagiannya tanpa kursi. Biar nambah kapasitasnya! Perbandingan duduk dan berdiri, 40:60. Bau keringet, asap knalpot dan copet adalah fasilitas yang disiapkan.
Kalo beruntung naek, dapat sopir yang santun. Kalo nggak, siapkan nyali dan doa. Plus, ketambah macet di jalan. Menurut saya, lebih baik ditampar banci daripada naek Kopaja sialan ini!
Kedua, KRL EKonomi. Entah setan apa yang bisa mempengaruhi orang-orang ini masih nggak kapok naek KRL bertarif Rp 1.500 (BBM belum naek) ini? Jangankan duduk, dapat pijakan dua kaki saja udah sangat untung.
Parah, kalo udah jam berangkat dan pulang kerja, KRL ini mirip kotoran hewan. Dikerumuni lalat dari segala arah. Ya! Kotorannya KRL dan lalatnya ini penumpang. Enaknya, memang bebas macet.
Nggak enaknya lebih banyak. Terutama penumpang cewek, rawan pelecehan birahi. Bau sampah menyembur. Pas malam, gerbongnya tanpa lampu. Sighh..
Ketiga, busway. Kata siapa naek busway enak? Enaknya ya cuma pas hari sabtu dan minggu. Selain hari itu, ya silakan sabar mengantre di halte. Belum sesak-sesakan di dalam busnya. Kejadian ini pernah saya alami ketika dari Ancol.
Saat oper ke halte Senen. Simpang halte disini ternyata rame banget. Antreannya mengular sampai ke tangga. Kira-kira 20 meteran. Edyan!
Parahnya, bus nggak datang-datang. Antreannya saya tunggu sampai 20 menitan. Nongol pun, busnya udah full penumpang. Kutu ngorok! Ampun dah!
Saya pun resign dari antrean. Keluar dari halte, dengan terpaksa menyetop Kopaja. Sial!! Saya milih ditampar banci aja dahhh…….











Sumpah! Kopaja itu mirip bajaj. Polusi, tak tau aturan, ugal-ugalan. Komplitlah brengseknya. Beda ukuran aja..
Kopaja Brengsek
August 12, 2008 at 5:49 pm
Hehehehe…
Itulah namanya tinggal di Jakarta… kota segala ada… dan kalo sudah merasakan
nikmatpahit-nya … yah, Anda sudah sah jadi warga Jakarta!ah.. saya kangen ngejar2 bis…
vla
August 13, 2008 at 3:49 am
Bukannya sudah sah kalo udah pegang KTP DKI. Saya mah masih KTP ndeso..
walangkadoeng
August 13, 2008 at 5:55 am
kalo KTP bisa bikin dimana saja toh, mas?
hahahaha… mawu saya bikinkan KTP sini? :p
vla
August 14, 2008 at 5:53 pm
dimana2 yang namanya angkutan umum memang suka bikin sebel ya??
uNieQ
August 16, 2008 at 7:59 pm
Metromini & Kopaja….
Go to Hell…!!!
aditcenter
August 19, 2008 at 4:07 pm
@unieq : Sebel stadium lanjut kalo di Jakarta
@aditcenter : Asal jangan penumpangnya
walangkadoeng
August 20, 2008 at 7:01 pm
seandainya semua orang punya pilihan selaen kereta ekonomi yud…..
anik
August 22, 2008 at 4:36 pm
Membatasi penggunaan dan pembelian mobil pribadi. Menyetop import mobil-mobil dari luar. Fokuskan pada perbaikan transportasi umum. Seluruh warga jakarta wajib menggunakan transportasi umum. Tidak ada lagi mobil pribadi. Semua anggaran untuk perbaikan fasilitas transportasi umum harus transparan. Para operator atau perusahaan transportasi umum harus di pantau pemerintah agar menyediakan fasilitas yg nyaman, sopir yng tidak ugal2an, dan rasa aman bagi masyarakat.
hardi sulianto
September 7, 2008 at 1:39 pm